Ahok "Ngaku" Tidak Pernah Bayar "Buzzer" Media Sosial

Cara meraih simpati dari para pemilih memang bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu yang cukup kuat untuk meraih simpati para pemilih adalah memanfaatkan media di dunia maya. Karena hal itulah, saat ini diduka muncullah para buzzer bayaran.

Menanggapi fenomena ini bakal calon gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)segera mengkounter berita ini dengan memberikan pernyataan bahwa dirinya tidak pernah membayar buzzer untuk beraksi di media sosial yang bertujuan untuk menggiring opini masyarakat Pilkada DKI Jakarta 2017 untung mendukung dirinya.

Demikian juga saat ia mengikuti Pilkada DKI Jakarta 2012. Basuki yang saat itu menjadi pendamping Joko Widodo mengaku tak pernah membayar buzzer .

"Mereka saja otomatis (bergerak di media sosial). Kalau saya lihat, gerakannya mirip kok sama dulu (saat Pilkada DKI Jakarta 2012)," kata Basuki, di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (3/10/2016).

Berdasarkan pengamatan lembaga survei pemantau fenomena percakapan di media sosial, PoliticaWave.com, sementara ini, bakal calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, memimpin dengan jumlah percakapan terbanyak dan net sentiment paling positif oleh netizen.

Ada 146.460 percakapan tentang Basuki-Djarot yang dihitung sejak 23 September 2016 hingga hari ini.

Net sentiment Basuki-Djarot sebesar 7.078 merupakan percakapan positif. Sementara itu, percakapan terbanyak kedua adalah tentang Anies Baswedan-Sandiaga Uno (Anies-Sandi) dengan jumlah 62.584 percakapan.

Namun, net sentiment untuk Anies-Sandi sendiri justru hanya 2.981 percakapan positif, jauh di bawah Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni dengan perolehan net sentiment 6.207 percakapan positif.

Basuki mengaku enggan memusingkan hasil survei ini. "Kamu tanya pengamat deh, aku enggak begitu ngerti. Aku kerja saja sudah," kata dia.
loading...