WOW! Tradisi Gadis di Suku Ini Bebas "test drive" Pasangan Prianya, Alasannya Biar.....

Setiap suku bangsa memiliki adat dan tradisi yang berbeda - beda. Salah satunya dalam tata cara mendapatkan pasangan hidup, ada yang menerapkan sistem kasta. Ada yang harus melarikan pasangannya terlebih dahulu untuk bisa menikahi. Dan ada pula yang menerapkan kebebasan dalam hal mencari pasangan.

Salah satu yang cukup unik dan seperti di luar kewajaran adalah cara suku Suku Kreung yang merupakan satu etnis minoritas yang tersebar di bagian timur Kamboja. Etnis ini mendiami 27 desa di distrik Ratanakiri.

Tidak seperti suku - suku lain, orang-orang Kreung memiliki tradisi yang unik terutama dalam persoalan jodoh. Penduduk etnis ini memiliki pemikiran yang sangat terbuka dalam urusan perjodohan ini. Para pemuda Kreung menjalani "hubungan bebas", sebuah praktik yang pasti sulit diterima oleh budaya yang mengagungkan kep3raw4n4n perempuan.

Tetapi dengan menjalani hubungan bebas bukan berarti etnis Kreung tidak menghargai harkat dan martabat wanita. Mereka justru sangat menghargai emansipasi wanita. Para wanita memiliki hak sepenuhnya untuk memilih siapa yang akan menjadi jodohnya kelak. Berikut cerita Suku Kreung yang ilansir techpuffs.com

Para orangtua di desa-desa suku Kreung punya tradisi membangun pondok-pondok kecil dari anyaman bambu untuk anak-anak gadis mereka yang sudah beranjak remaja. Gadis-gadis Kreung biasanya dibuatkan pondok cinta ini ketika mereka memasuki usia 13 sampai 15 tahun.

Penduduk etnis Kreung sendiri lebih suka menyebutnya ‘rumah perawan’. Pondok ini dimaksudkan sebagai sarana bagi para gadis Kreung untuk menemukan cinta sejati. Dengan begitu gadis-gadis muda tersebut leluasa untuk mengundang para pria, mengenal mereka, dan berhubungan layaknya suami istri jika mereka menginginkannya.

“Sebelum kita membuka rumah kita, kita tidak akan bisa membuka hati untuk orang lain,” kata Gaham, perempuan berusia 21 tahun dari suku Kreung seperti ditulis Campus Diaries. “Suasana di pondok sedikit gelap dan sunyi. Jadi terasa sangat romantis.”

Tetapi interaksi antara sepasang pemuda di gubuk cinta tidak selalu diwarnai hubungan layaknya suami istri. Kadang yang terjadi hanya hubungan persahabatan belaka, dan jika si pria berkunjung yang mereka lakukan mungkin hanya mengobrol hingga larut malam lalu tidur.

“Jika aku tidak ingin mereka menyentuhku, mereka tidak akan melakukannya. Kami cuma mengobrol dan tidur.” ucap Nang Chan, gadis berumur 17 tahun yang sudah tinggal di gubuk cinta selama dua tahun. Seperti gadis-gadis lainnya, Chan biasa mencari tahu dulu seperti apa kepribadian si pemuda, pandangan hidupnya, keseriusannya, dan sopan santunnya sebelum ia memutuskan untuk bersedia didekati. Kadang para gadis memang harus mengenal sederet pemuda sebelum mereka benar-benar menemukan yang cocok untuk dijadikan pasangan hidup.

Penduduk etnis Kreung memang menghargai hubungan badan pra nikah. Jika melakukan hubungan bad4n di luar nikah pada budaya-budaya lain dianggap kehilangan kesucian dan kehormatan, dalam budaya Kreung lepasnya kep3raw4n4n seorang gadis justru dianggap sebagai simbol dari kedewasaan dan kemandirian. Seperti dikutip Phnom Penh Post, menurut mereka berhubungan 1nt1m adalah cara bagi pasangan muda-mudi untuk menunjukkan kepada para orang tua bahwa mereka saling mencintai dan berniat serius menjalani komitmen.

Tradisi ini bertujuan untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan bagi remaja puteri untuk belajar tanggung jawab dan kehati-hatian dalam urusan "ranjang". Para orang tua pun tak keberatan anak mereka ‘berhubungan’ dengan beberapa pemuda sebelum menemukan pasangan sejatinya asalkan si gadis aman dan diperlakukan dengan baik oleh pemuda yang mereka cintai.

“Jika kami sudah berhubung4n b4d4n dan kami yakin saling mencintai, orang tua juga setuju, maka kami bisa menikah.”

Ravee, warga etnis Kreung dari Desa Kala yang sudah berumur 70 tahun mengatakan, “Dalam komunitas masyarakat kami berhubung4n b4d4n sebelum menikah adalah hal yang lumrah. Tetapi sekarang orang tua bisa ikut mengenal si pemuda karena dia akan tinggal bersama mereka selama beberapa hari. Dengan begitu mereka bisa mencari tahu apakah latar belakang si pemuda, apakah dia berasal dari keluarga baik-baik atau apakah dia rajin bertani.”

Walaupun mungkin banyak orang yang berpendapat bahaya bagi seorang wanita muda untuk tinggal sendirian di sebuah gubuk yang terpisah, menurut Ravee p3merk0sa4n bukan masalah dalam komunitas etnis Kreung. Meskipun ia tidak bisa menunjukkan bukti statistiknya, menurutnya hukuman adat di suku Kreung cukup efektif dalam mencegah tindak p3merk0sa4n dalam proses pencarian jodoh ini.

Jika seorang gadis menjalani hubung4n atas paksaan, maka si pria akan dikenakan denda oleh para tetua kampung. Seluruh hasil panen keluarganya akan diambil. Tentu saja hukuman seperti ini juga akan mendatangkan malu bagi si pemuda beserta keluarganya. Warga Kreung memasuki pernikahan dalam usia yang relatif muda dan dengan cara yang unik pula. Tetapi menurut mereka kekerasan suami istri dan perceraian merupakan kasus yang jarang terjadi.

Menurut Louis Quail dari Excalibur, tradisi unik ini sudah mulai tergerus arus globalisasi dan budaya barat. Nilai-nilai budaya Kreung sudah mulai terpengaruh budaya Khmer, yang umumnya menganggap hubungan pra nikah sebagai hal negatif. Sekarang ini hanya di desa Tang Kamal yang masih memelihara tradisi pondok cinta. Tetapi di desa ini pun nilai budaya dari tradisi tersebut sudah mulai luntur.

Perubahan gaya hidup dan perekonomian membuat mereka lebih memilih membuat rumah yang lebih bagus dan tahan lama. Daripada membuat gubuk cinta dari bambu yang terpisah dari rumah utama, mereka lebih memilih membangunkan kamar khusus untuk puteri remaja mereka. Selain lebih praktis dan nyaman, dengan begini para orang tua juga masih punya akses untuk memantau interaksi puteri mereka dengan para pemuda yang sedang mendekatinya.

Karena kemajuan teknologi dan mudahnya akses terhadap tayangan "dewasa", para pemuda Kreung pada zaman sekarang juga sudah mulai tidak menghargai wanit. Lung Wen, seorang tetua adat berusia 49 tahun dari salah satu desa etnis Kreung mengatakan, “Para pemuda zaman sekarang sudah tidak sesopan dulu.”

Senada dengan Lung Wen, Poeun, gadis Kreung yang berusia 17 tahun berkata, “Banyak pemuda yang tidak baik. Beberapa dari mereka yang datang untuk menemuiku bersikap arogan. Tetapi jika mereka mencoba melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan, aku usir saja mereka dengan suara keras. Biasanya cara ini berhasil.”

Ya memang seperti pepatah yang mengatakan lain ladang, lain belalang. Setiap suku memang memiliki keunikan tersendiri, buat kamu yang masih jomblo mungkin tertarik untuk tavel ke desa tadi, siapa tahu jodoh kamu di sana....
loading...